Karangan Bunga dari Waktu ke Waktu: Lambang Perasaan sampai Spiritual

Karangan bunga untuk Ahok-Djarot di Balai Kota. Foto: Bisma Alief/detikcom

 

Fossilflowers.org – Karangan bunga umumnya kelihatan waktu ada upacara pernikahan, ulang tahun, peresmian satu tempat, pernyataan duka cita serta yang lain. Ada pernyataan yang ingin dikatakan dari ‘bahasa’ bunga dalam karangan itu.

Karangan bunga masuk dalam sisi seni menyusun bunga yang diatur dalam bermacam-macam kreatif. Serangkaian bunga jadi simbolisme tersendiri, tergantung pada penentuan type bunga. Dalam budaya di sejumlah negara Asia serta Timur Tengah, memandang bunga tersendiri jadi hal suci serta terkait dengan spiritual.Sesaat di masa Victoria, bunga mempunyai arti penting. Seperti bunga chamomile jadi pernyataan ‘kesabaran’ dari kekasih pada pasangannya.

rangkaian bunga kuno mesir

Serangkaian bunga di waktu Mesir Kuno. Photo: Dok. Internet

 

Dari beberapa info yang dikumpulkan detikcom, seni untuk menyusun bunga datang dari Mesir semenjak 2500 tahun sebelum masehi. Dari artefak yang diketemukan oleh arkeolog, kelihatan karangan bunga dalam vas. Serangkaian dekorasi dengan bunga kelihatan dari relief pada mumi. Bunga-bunga itu jadi lambang relijius sekaligus juga kesucian.

 

Baca juga: Karangan Bunga Palopo

Serangkaian bunga

Serangkaian bunga di waktu Mesir Kuno. Photo: Dok. Internet

 

Seni karangan bunga selanjutnya terus berkembang sampai ke Yunani Kuno serta Kerajaan Romawi. Mereka demikian tertarik pada karangan bunga serta menggunakan type bunga paling baik. Buat beberapa orang Yunani, karangan bunga adalah lambang buat kekuasaan, kesetiaan, dedikasi serta kehormatan. Sedang orang Romawi memandang karangan bunga jadi simbol kemenangan militer serta menghargai kemenangan komandan yang barusan perang.

Pemakaian serangkaian bunga

Pemakaian serangkaian bunga di waktu Yunani Kuno. Photo: Dok. Flower Across Melbourne

 

Bentuk dari karangan bunga pada saat itu merubah bentuk yang ada sekarang. Bentuk lain dari karangan bunga di waktu Romawi yang populer yaitu dipakai pada kepala.

Serangkaian bunga di waktu Romawi

Serangkaian bunga di waktu Romawi. Photo: Dok. Website Flower Across Melbourne

 

Mengembangnya jaman ikut memengaruhi bentuk dari karangan bunga. Pada saat Renaissance (tahun 1400 sampai 1600), design karangan bunga ikut menandai awalnya masa perkembangan di eropa. Style karangan bunga masa Renaissance dikuasai style classic Yunani, Romawi serta Bizantium. Pada saat ini, beberapa orang di Eropa demikian nikmati serangkaian dengan beberapa bunga. Mereka banyak memakai karangan bunga di gereja-gereja. Bunga yang terbanyak dipakai yaitu mawar serta lily.

Bentuk serangkaian bunga di waktu Renaissance

Bentuk serangkaian bunga di waktu Renaissance. Photo: Dok. Website Flower Across Melbourne

 

Selanjutnya pada era ke-18, di Belanda, serangkaian bunga dipakai untuk menghiasi rumah-rumah beberapa petinggi serta keluarga kaya. Rutinitas ini ikut menebar di Inggris. Type serangkaian bunga yang popular waktu itu yakni “Tussie-Mussie atau Posy”. Serangkaian bunga tussie-mussie ialah buket bunga melingkar yang bawa arti simbolis berdasar bahasa bunga. Bunga yang diberi akan sebagai wakil perasaan tersendiri.

Masuk masa modern pada era ke-20, karangan bunga makin beragam bentuk serta macamnya. Dari mulai bouquet, standing flower sampai karangan bunga yang dibuat memakai papan. Seperti yang kelihatan di Balai Kota DKI Jakarta terakhir waktu ini.

Karangan bunga untuk Ahok-Djarot di Balai Kota. Foto: Bisma Alief/detikcom

Karangan bunga untuk Ahok-Djarot di Balai Kota. Foto: Bisma Alief/detikcom

Ada hampir 1.000 lebih karangan bunga yang membanjiri Balai Kota. Karangan bunga hadir dari masyarakat yang diperuntukkan spesial untuk Gubernur serta Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) serta Djarot Saiful Hidayat. Tulisan pada karangan itu bermacam serta rata-rata bersuara ‘baper’ (bawa serta perasaan), pinjam arti modern yang dipakai beberapa anak muda sekarang.

Karangan bunga di Balai Kota

Karangan bunga di Balai Kota. Photo: Nathania Riris Michicco/detikcom

 

Sejumlah besar masyarakat mengutarakan rasa terima kasih pada Ahok-Djarot yang sudah kerja untuk mengatur Jakarta. Beberapa merasakan ‘kehilangan’ karena ganda petahana itu akan selesai waktu jabatannya pada Oktober 2017 akan datang. Diganti oleh Anies Baswedan-Sandiaga Uno jadi pemimpin baru di DKI Jakarta.