Waktu yang Tepat Melepas Empeng

Memang, empeng bisa memberikan rasa nyaman pada anak. Namun jika sampai ketergantungan, tentu tak baik dampaknya. Cegah sebelum terlambat! Mama, memang ada pendapat yang pro dan kontra perihal penggunaan empeng alias pacifer atau bingky ini. Sebagian Mama menyodorkan empeng, awalnya untuk menciptakan rasa tenang pada si buah hati ketika masih bayi. Memang sih, aktivitas mengempeng atau ngedot bagi bayi dapat menenangkan.

Bayi perlu ditenangkan, terutama ketika merasa lelah, bosan atau lantaran merasa belum nyaman dengan “dunia barunya”. Bayi sudah memiliki “kebutuhan” akan mengempeng semenjak di dalam rahim, yakni mengempeng jempolnya sendiri. Mengempeng menciptakan rasa nikmat karena memberikan efek menenangkan, membuat dirinya merasa nyaman.

Tips Melepaskan Empeng Anak

Umumnya, empeng atau dot diberikan ketika Mama sudah kehabisan berbagai cara untuk menenangkan si kecil, dari menyusui, mengayun, mengendong, dan lain-lain. Jadi, empeng merupakan upaya terakhir untuk menenangkan si kecil setelah segala cara yang ditempuh tak jua mampu menenangkan si buah hati. Di sisi lain, empeng juga dapat berdampak negatif. Salah satunya, merusak struktur gigi bila terlalu lama digunakan, semisal sampai lebih dari usia setahun.

Baca juga : “ https://lesbahasainggris.co.id/kursus-bahasa-jerman-di-tangerang/

Mengempeng dapat membuat gigi-geliginya tumbuh tidak sebagaimana mestinya, seperti gigi menjadi agak maju (tonggos). Meski masih gigi susu, tetapi perkembangannya juga menentukan pertumbuhan dan letak susunan gigi permanennya nanti. Tonggos atau tidaknya bergantung pada frekuensi, intensitas, dan lamanya anak menggunakan empeng.

Jika hanya sesekali mengempeng dan hanya sampai ia berumur 1 tahun, maka tidak perlu khawatir dengan perkembangan giginya. Nah, menilik dampak negatifnya, disarankan kebiasaan ini mulai dikurangi sedini mungkin. Umumnya bayi akan mengurangi ketergantungannya pada empeng di kisaran umur 6—9 bulan, ketika ia mulai merangkak dan menjadi lebih tertarik pada hal-hal lain.

Jadi, saat bayi menunjukkan tandatanda tidak atau kurang tertarik pada empengnya, maka jangan sekalipun menyodorkan empeng lagi. Sayangnya, yang kerap terjadi justru orangtua “lupa”, sehingga diberikanlah kembali empeng itu manakala si bayi rewel. Akhirnya yang terjadi, sampai masuk usia batita pun, si kecil masih mengempeng. Padahal, begitu umur 2 tahun, baiknya anak sudah benar-benar lepas dari empengnya.