Teman Khayal Membuat Si Kecil Lebih Pintar Bagian 2

* Belajar memecahkan masalah. Berkhayal mengajarkan prasekolah untuk berpikir kreatif (out of the box) dalam kehidupan nyata. Sebuah studi yang dilakukan oleh Western Reserve University menemukan bahwa prasekolah yang berimajinasi cenderung menjadi pemecah masalah yang lebih baik saat dewasa, karena mereka memiliki banyak akal ketika menghadapi tantangan dan situasi yang sulit. Teman khayal dapat menjadi salah satu sarana bagi anak untuk menuangkan imajinasinya. Nah, teman khayal ini akan menghilang ketika prasekolah memasuki usia 7 tahun saat ia mulai lebih banyak berinteraksi dengan dunia nyata, seperti sekolah.

Saat si Kecil Bermain dengan Teman Khayalnya

Mama Papa silakan ikuti tip di bawah ini agar si teman khayal dapat memberi manfaat optimal bagi si prasekolah.

  1. Saat anak bermain khayal, dengarkan si kecil dan terlibatlah dalam permainan itu. Tentu syaratnya, kita memang diizinkan untuk terlibat. Sewaktu bermain dengan teman khayalnya, si prasekolah akan masuk ke alam fantasi dimana semua hal diatur atas kehendaknya. Jadi hormati ide dan ikuti arahannya. Hindari memberikan kritik. Dengan ikut terlibat, akan membantu kita memahami apa yang sedang ia pikirkan.
  2. Bertanya mengenai teman khayalnya. Minta si prasekolah mendeskripsikan apa yang sering dilakukannya saat bersama “si teman”. Ini berguna agar kita memahami kebutuhan prasekolah, termasuk kesulitan yang sedang dihadapinya. “Apa yang dilakukan Kakak bersama si Boogie hari ini? Apakah Boogie senang dengan sekolahmu ?”
  3. Hindari menggunakan teman khayal untuk memanipulasi anak. “Boogie mau makan sayur lo, kamu kok enggak ?” Ingat, dalam permainan ini orangtua seharusnya mengikuti arahan anak, bukan sebaliknya.

Hati – Hati Kurang Interaksi

Meskipun punya teman khayal, si prasekolah tetap harus didorong untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Ada beberapa kemampuan yang tidak dapat berkembang optimal bila anak terlalu asyik dengan teman khayalnya. Jika si kecil tidak diajak berinteraksi dengan lingkungannya, kemampuan yang sudah berkembang dalam dunia khayal, belum tentu bisa berkembang dengan baik dalam dunia nyata.

Karena itulah, anak memang membutuhkan waktu untuk bermain sendiri, berimajinasi, dan berkhayal, namun ia tetap membutuhkan partner bermain yang suportif. Porsi yang paling besar tentu dengan tetap bermain dengan teman sebaya, orangtua, saudara kandung sehingga kemampuan sosialnya terasah dengan baik.

Untuk anak yang ingin memiliki keterampilan bahasa asing, simak informasi lengkap les bahasa asing berikut ini “ http://pascal-edu.com/kursus-bahasa-jerman-di-tangerang/